Metroluwuraya.com, Makassar | Raut kelelahan tampak jelas di wajah Nurhidayah Idris saat duduk di salah satu sudut Markas Polda Sulawesi Selatan. Perempuan berusia 48 tahun itu tidak datang untuk membuat keributan. Ia hanya berharap haknya bisa kembali.
“Saya tidak ingin ribut. Saya hanya ingin uang saya dikembalikan,” ucap guru mengaji asal Kabupaten Luwu Timur tersebut.
Bersama sang suami, Nurhidayah mengaku telah menyetorkan Rp32 juta pada 2024 untuk mengikuti program umrah subsidi yang ditawarkan Putri Dakka. Dana itu berasal dari tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun, termasuk dari honor mengajinya.
Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polda Sulsel sejak April 2025. Penyidik Unit II Subdit V Tipidsiber Ditreskrimsus telah memeriksa sejumlah saksi korban maupun ahli. Namun, lebih dari setahun berselang, para korban menilai proses penyelesaiannya belum menunjukkan perkembangan berarti.
Dari total 69 korban yang terdata, baru 27 orang yang menerima pengembalian dana. Sisanya, sebanyak 42 korban, masih menunggu kepastian.
Harapan yang Belum Terwujud
Di antara para korban, kisah Nenek Sutinah menjadi salah satu yang paling menyentuh.
Perempuan lanjut usia yang setiap hari berjualan nasi kuning di kawasan Jalan Andi Djemma, Kota Palopo, itu mengaku menabung sedikit demi sedikit dari hasil dagangannya demi mewujudkan impian berangkat umrah bersama cucunya, Daffa.
Daffa yang kini berusia 12 tahun merupakan penyandang tunanetra sejak lahir. Bagi sang nenek, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar ibadah, tetapi juga harapan agar cucunya dapat merasakan pengalaman yang selama ini hanya ia bayangkan.
“Saya kumpulkan uang dari hasil jualan nasi kuning sedikit demi sedikit. Saya bilang ke Daffa, nanti kita umrah bersama supaya dia bisa berdoa di Tanah Suci,” tutur Nenek Sutinah dengan mata berkaca-kaca usai mendatangi Polda Sulsel.
Dengan polos, Daffa pernah bertanya kepada neneknya.
“Nenek, kapan kita berangkat umrah? Saya ingin menyentuh Ka’bah supaya saya bisa membayangkan bagaimana rasanya.”
Namun impian itu hingga kini belum terwujud. Dana yang telah diserahkan kepada Putri Dakka belum sepenuhnya dikembalikan. Nenek Sutinah dan cucunya baru menerima sebagian dari uang yang mereka setor.
Janji Pengembalian yang Tak Kunjung Tuntas
Kuasa hukum para korban, Ardianto Palla, mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat tercapai kesepakatan di hadapan penyidik. Saat itu pihak Putri Dakka disebut berkomitmen mengembalikan dana kepada 15 korban setiap hari.
Akan tetapi, pelaksanaan kesepakatan tersebut hanya berlangsung sehari. Proses berikutnya kembali tertunda dengan alasan adanya pihak yang sedang sakit. Kondisi itu membuat banyak korban, terutama yang datang dari luar Kota Makassar, merasa kecewa karena telah mengeluarkan biaya dan waktu tanpa hasil yang jelas.
Di sisi lain, Putri Dakka yang dikenal sebagai kader Partai NasDem dan disebut-sebut sebagai figur yang diproyeksikan menggantikan Rusdi Masse, justru melaporkan beberapa korban ke Bareskrim Polri.
Melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Putri Dakka, Nurhidayah menyampaikan satu pertanyaan sederhana namun sarat makna.
“Putri Dakka, kapan uang kami dikembalikan?”
Ia juga mengirimkan surat kepada Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, serta Komisi III DPR RI agar turut mengawasi penanganan perkara tersebut di Polda Sulsel.
“Kami hanya rakyat kecil. Kami hanya ingin hak kami dikembalikan,” tulisnya.
Di Tengah Penantian Korban
Kasus ini kini tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga memunculkan perhatian publik mengenai tanggung jawab moral terhadap para korban.
Sementara Nurhidayah bersama puluhan korban lain masih menunggu kejelasan, Nenek Sutinah tetap berjualan nasi kuning demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah penantian itu, akun Facebook Putri Dakka masih memperlihatkan berbagai aktivitas. Di antaranya unggahan promosi penjualan tiket konser Slank di Kota Palopo, publikasi agenda politik, hingga pernyataan bahwa dirinya merupakan korban fitnah.
Bagi para korban, pemandangan tersebut menghadirkan luka tersendiri.
“Dia masih sibuk menjual tiket konser dan berpolitik, sementara uang kami untuk umrah belum juga dikembalikan,” kata Nurhidayah lirih.
Mengakhiri keterangannya, guru mengaji itu menyampaikan kalimat yang mencerminkan harapan sekaligus kegelisahannya.
“Saya setiap hari mengajarkan anak-anak tentang kejujuran. Sekarang saya hanya ingin melihat apakah orang-orang yang memiliki kekuasaan juga memegang nilai yang sama.”
Hingga berita ini disusun, Putri Dakka belum memberikan tanggapan atau konfirmasi atas upaya permintaan klarifikasi yang dilakukan.
(*)






