LUWU| METROLUWURAYA.COM — Hamparan sawah di Desa Balla, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu, kembali memasuki masa panen. Warga bersama pemerintah desa dan kelompok tani menggelar panen raya, Rabu (30/9/2026), di tengah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung.
Panen kali ini menjadi catatan tersendiri bagi petani Desa Balla. Di tengah ancaman kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Nino, produktivitas lahan justru mampu bertahan bahkan mengalami peningkatan.
Kepala Desa Balla, Baso Jima, mengatakan hasil panen rata-rata mencapai sekitar 7,5 ton gabah per hektare, atau setara kurang lebih 60 karung.
“Alhamdulillah, panen kami di Desa Balla ini sangat signifikan dan mengalami kenaikan. Per satu hektare kurang lebih 7,5 ton, kalau jumlahnya sekitar 60 karung,” ujar Baso seusai panen raya.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja bersama antara pemerintah desa, kelompok tani dan sejumlah pihak yang terlibat langsung dalam penanganan sektor pertanian.
Kolaborasi dilakukan mulai dari pendampingan petani hingga memastikan ketersediaan air tetap terjaga ketika debit sumber air mengalami penurunan akibat kemarau.
“Desa Balla bekerja sama dengan kelompok tani, kemudian Babinsa, pemerintah kecamatan, BPP dan stakeholder lainnya. Semua turun berkolaborasi menangani pertanian selama musim kemarau,” katanya.
Untuk mengantisipasi ancaman kekeringan, pemerintah desa bersama petani memanfaatkan sumber air irigasi sekaligus mengoptimalkan pompanisasi.
Baso menyebut sekitar 10 hektare lahan sempat terdampak kondisi kekurangan air. Namun, penanganan dilakukan secara cepat sehingga kebutuhan air tanaman tetap dapat dipenuhi.
“Untuk mengatasi kekeringan akibat El Nino, kami melakukan dua cara, yakni mengambil air dari irigasi dan pompanisasi. Ada sekitar 10 hektare lahan yang terdampak dan bisa tertangani dengan cepat,” jelasnya.
Upaya tersebut membuat tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air hingga memasuki masa panen.
Tak hanya merayakan hasil panen, pemerintah desa dan petani juga mulai menyusun langkah menghadapi musim tanam berikutnya.
Melalui Tudang Sipulung, pemerintah desa bersama petani membahas kondisi air, kesiapan lahan serta pola tanam yang akan diterapkan.
Hasil kesepakatan menetapkan jadwal tanam berikutnya berlangsung pada 23 November hingga 20 Desember 2026.
“Kami sudah berkomunikasi dengan petani dan mengadakan Tudang Sipulung hari ini untuk menentukan jadwal tanam,” kata Baso.
Tudang Sipulung tersebut turut dihadiri unsur Dinas Pertanian, BPP Kecamatan Bajo, PSDA Ranting Bajo, PT Masmindo Dwi Area (MDA),Babinsa, Camat Bajo, KUA Kecamatan Bajo, Kepala Laboratorium POPT Pengamat Wilayah Luwu Raya, Pendamping Desa, serta Forum Desa (Fordes) Desa Balla.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari koordinasi bersama untuk memastikan kegiatan pertanian tetap berjalan di tengah tantangan perubahan kondisi cuaca dan ketersediaan air.
Baso mengatakan, pengelolaan debit air akan menjadi salah satu perhatian utama pada musim kemarau. Air dari wilayah hulu akan diatur agar dapat dimanfaatkan secara optimal hingga ke area persawahan di bagian hilir.
“Solusi kami menghadapi puncak kemarau adalah bergerak cepat mengelola pertanian sambil melakukan antisipasi. Debit air yang ada kami atur dari hulu ke hilir. Kemudian kami bantu dengan pompanisasi, dan itu menjadi solusi terakhir,” pungkasnya.
Dengan capaian panen yang mencapai 7,5 ton per hektare serta adanya kesepakatan jadwal tanam, Desa Balla kini mulai menatap musim tanam berikutnya dengan strategi pengelolaan air yang lebih terukur.
(R/s)






