Petani Desa Sampa Sepakat Tanam Serentak, Program PM.AAS 10 Hektare Libatkan MDA

LUWU| METROLUWURAYA.COM — Tradisi Tudang Sipulung kembali menghidupkan suasana kebersamaan masyarakat Desa Sampa, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu. Digelar di Dusun Balabatu, Sabtu (26/9/2026), kegiatan ini menjadi ruang syukuran pascapanen sekaligus forum musyawarah petani untuk menentukan langkah menghadapi musim tanam berikutnya.

Di tengah hamparan lahan pertanian, pemerintah desa bersama para petani dan pemangku kepentingan sektor pertanian menyatukan pandangan. Hasilnya, masyarakat sepakat menetapkan 7 hingga 24 Desember 2026 sebagai waktu pelaksanaan tanam padi dengan metode Tabela.

Kepala Desa Sampa, Arfand, A.Md.Kep, mengatakan Tudang Sipulung bukan sekadar agenda rutin setelah panen. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dipertahankan sekaligus sarana menyatukan keputusan petani.

“Tudang Sipulung di Desa Sampa merupakan kegiatan rutin pascapanen sekaligus tradisi dan budaya yang masih terjaga. Maknanya adalah mensyukuri hasil panen dan bermusyawarah menetapkan jadwal tanam musim berikutnya,” ujar Arfand.

Menurutnya, kesepakatan jadwal tanam diharapkan menjadi pedoman bersama agar proses budidaya dapat dilakukan secara lebih teratur dan serempak.

Tak hanya soal kalender tanam, Tudang Sipulung tahun ini juga menjadi momentum memperkuat koordinasi antara pemerintah desa, penyuluh pertanian, kelompok tani dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pertanian di Kecamatan Bajo.

Dalam kesempatan tersebut, Desa Sampa juga mendapat dukungan melalui Program PM.AAS dari BRMP Sulsel, Kementerian Pertanian, dengan luasan mencapai 10 hektare.

Program tersebut turut melibatkan kolaborasi dengan PT Masmindo Dwi Area (MDA). Kehadiran program dan dukungan lintas pihak ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan sektor pertanian serta meningkatkan produktivitas petani di Desa Sampa.

Kegiatan Tudang Sipulung dihadiri Basrum, SP., M.Si dari BRMP Sulsel, Sekretaris Dinas Pertanian, Camat Bajo, KUA Bajo, BPP Bajo, BPP Kamanre, PSDA Bajo, Kabag Pengolahan Sampah DLH, mahasiswa KKN IAIN, Ketua Gapoktan, seluruh Ketua Poktan, serta masyarakat Desa Sampa.

Bagi masyarakat Sampa, Tudang Sipulung memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar pertemuan pascapanen. Tradisi ini menjadi ruang untuk merawat kebersamaan, memperkuat gotong royong, sekaligus menentukan arah pengelolaan pertanian melalui musyawarah.

Dengan jadwal tanam yang telah disepakati, para petani Desa Sampa kini memiliki acuan bersama untuk menyongsong musim tanam berikutnya-dengan harapan pola tanam yang lebih teratur dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas pertanian desa.

 

(Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *