Metroluwuraya.com, Luwu | Penantian panjang keluarga Mursalim akhirnya menemukan titik terang. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan tanpa aliran listrik di sebuah rumah bekas dapur gula aren di Dusun Minanga Tallu, Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang (Bupon), Kabupaten Luwu, keluarga kecil itu segera menikmati penerangan yang selama ini hanya menjadi harapan.
Perubahan itu datang setelah kisah kehidupan Mursalim menyita perhatian publik. PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Belopa bergerak cepat dengan mengunjungi langsung kediamannya untuk menindaklanjuti pemberian bantuan pemasangan listrik gratis melalui program Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN.
Rumah sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter yang ditempati Mursalim bersama istrinya, Yeni (48), dan putra mereka, Muhammad Ghibran (7), belum pernah menikmati aliran listrik sejak dihuni. Saat malam tiba, keluarga tersebut hanya mengandalkan pelita berbahan bakar minyak tanah, lampu darurat, atau lampu yang disambungkan ke aki sepeda motor sebagai sumber penerangan.
Manajer PLN ULP Belopa, Ricky Titin, mengatakan pihaknya segera mengambil langkah setelah memperoleh informasi mengenai kondisi keluarga tersebut.
“Hari ini kami dari PLN ULP Belopa yang berada di bawah naungan PLN UP3 Palopo, Wilayah Sulselrabar, datang langsung ke rumah Pak Mursalim untuk memastikan kebutuhan pemasangan listrik,” ujarnya.
Menurut Ricky, bantuan melalui YBM PLN mencakup pemasangan kWh meter beserta instalasi listrik sehingga keluarga Mursalim dapat segera menikmati layanan listrik secara layak.
“Jika seluruh proses berjalan lancar, kami menargetkan pemasangan dapat diselesaikan secepatnya sehingga keluarga Pak Mursalim sudah bisa menikmati listrik di rumahnya,” katanya.
Selama ini, keterbatasan penerangan menjadi bagian dari keseharian keluarga tersebut. Ketika minyak tanah habis atau aki sepeda motor tidak lagi memiliki daya, mereka terpaksa menggunakan api unggun sebagai sumber cahaya atau memilih beristirahat lebih awal karena rumah sepenuhnya gelap.
Kepala Dusun Minanga Tallu, Agustang, mengungkapkan bahwa kondisi Mursalim telah lama menjadi perhatian pemerintah desa. Pihak desa bahkan beberapa kali mengusulkan agar keluarga tersebut masuk dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar dapat memperoleh berbagai bantuan pemerintah.
Namun, proses tersebut sempat terhambat karena data administrasi kependudukan Mursalim masih tercatat di wilayah tempat tinggal sebelumnya. Saat ini pemerintah desa terus berkoordinasi agar seluruh proses administrasi dapat segera diselesaikan.
“Kami berharap persoalan administrasi segera tuntas sehingga keluarga Pak Mursalim bisa mendapatkan bantuan sosial lainnya sesuai ketentuan,” ujar Agustang.
Bantuan dari PLN menjadi awal perubahan besar bagi keluarga itu. Bukan sekadar menghadirkan lampu yang menerangi rumah, tetapi juga membuka kesempatan bagi Muhammad Ghibran untuk belajar pada malam hari dengan lebih nyaman serta meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota keluarga.
Kisah Mursalim menjadi pengingat bahwa kepedulian masyarakat, dukungan berbagai pihak, dan pemberitaan yang mengangkat persoalan kemanusiaan dapat menghadirkan perubahan nyata. Dari rumah yang selama bertahun-tahun diselimuti kegelapan, kini mulai tumbuh harapan baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
(Tim | Redaksi)






