Jalan Menuju Awak Mas Diblokade, Karyawan Cemas Kehilangan Pekerjaan dan Masa Depan Kuliah

LUWU | METROLUWURAYA.COM — Pemalangan jalan menuju Proyek Awak Mas di Desa Rante Balla, Kabupaten Luwu, bukan hanya menghentikan aktivitas pekerjaan. Situasi ini juga memunculkan kecemasan di kalangan karyawan yang menggantungkan hidup dan masa depan keluarganya pada pekerjaan di kawasan proyek tersebut.

Salah satunya Ajay Fajar, pemuda asal Desa Sampeang yang bekerja di salah satu perusahaan subkontraktor PT Masmindo Dwi Area (MDA). Bagi Ajay, pekerjaan itu bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan juga jalan untuk meraih gelar sarjana sekaligus membantu menopang ekonomi keluarga.

Namun, sejak akses menuju Proyek Awak Mas diblokade pada Jumat pagi (9/10/2026), aktivitas kerjanya terhenti. Bersama karyawan lainnya, Ajay kini hanya bisa menunggu kepastian dari manajemen perusahaan.

“Kalau tidak salah, mulai ditutup sejak Jumat pagi. Setelah ditutup, langsung tidak ada aktivitas pekerjaan sampai sekarang. Kami karyawan masih menunggu dari pihak manajemen seperti apa,” tuturnya, Selasa (13/10/2026).

Di balik ketidakpastian tersebut, ada perjuangan panjang yang sedang dijalani Ajay. Sejak 2023, ia menempuh pendidikan di Jurusan Hukum Universitas Andi Djemma (Unanda), Kota Palopo. Biaya kuliah, termasuk uang kuliah tunggal (UKT) sekitar Rp3 juta setiap semester, dibayar dari hasil keringatnya sendiri.

“Dari awal memang saya biayai kuliah sendiri,” ujarnya.

Ajay mulai bekerja di salah satu subkontraktor PT MDA pada 2025. Sebelumnya, ia mengandalkan pekerjaan serabutan di sektor konstruksi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah memperoleh pekerjaan dengan penghasilan lebih teratur, ia mulai menyisihkan gajinya untuk membiayai pendidikan sekaligus membantu orang tuanya.

Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Ajay turut memikul tanggung jawab keluarga. Kondisi ayahnya yang telah lama sakit membuat kebutuhan rumah tangga harus ditopang bersama kakaknya.

Karena itu, berhentinya aktivitas pekerjaan bukan persoalan sepele baginya. Selain kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan tambahan, ia juga harus memikirkan kelangsungan kuliah dan kebutuhan keluarganya.

“Dalam kondisi standby seperti ini, pendapatan otomatis menurun karena lembur tidak masuk lagi,” ungkapnya.

Kecemasan Ajay semakin besar setelah beredar kabar mengenai kemungkinan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pengurangan tenaga kerja apabila pemalangan berlangsung lama.

Sebagai pekerja dengan status perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) yang kontraknya diperbarui setiap enam bulan, ia mengaku khawatir terhadap keberlangsungan pekerjaannya.

“Ada isu yang beredar, jika ada lockdown beberapa karyawan akan di-PHK atau dikurangi. Kondisi inilah yang kami khawatirkan,” katanya.

Hingga keterangannya disampaikan, kekhawatiran tersebut masih didasarkan pada isu yang beredar di kalangan pekerja. Belum ada keterangan resmi dari manajemen PT MDA dalam informasi yang disampaikan Ajay mengenai kepastian pengurangan karyawan.

Bagi Ajay, kehilangan pekerjaan bukan hanya berarti terputusnya sumber penghasilan pribadi. Dampaknya bisa merembet pada pendidikan yang sedang diperjuangkannya serta kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Apalagi Bapak sudah lama sakit, jadi saya dan kakak bersama-sama menopang ekonomi keluarga. Jika saya salah satu karyawan yang dirumahkan atau di-PHK, tentu akan kesulitan,” tuturnya.

Di tengah situasi tersebut, Ajay menilai keberadaan Proyek Awak Mas telah membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Ia menyebut proyek itu memberikan kesempatan kerja sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Luwu.

Menurutnya, manfaat yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan lapangan pekerjaan, tetapi juga pembangunan akses jalan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Hampir sebagian besar putra daerah bekerja di Awak Mas Project,” ujarnya.

Atas dasar itu, Ajay berharap persoalan pemalangan jalan di Rante Balla dapat segera diselesaikan oleh pihak-pihak terkait. Ia ingin aktivitas pekerjaan kembali berjalan normal agar para karyawan tidak terus berada dalam ketidakpastian.

“Kami para pekerja sangat berharap masalah ini bisa segera diselesaikan dan semua bisa bekerja normal kembali,” katanya.

Di balik tuntutan agar aktivitas proyek kembali normal, tersimpan kekhawatiran sederhana seorang pekerja muda: bagaimana membayar biaya kuliah, membantu orang tua yang sakit, dan mempertahankan pekerjaan yang selama ini menjadi tumpuan keluarga.

Ajay pun mempertanyakan masa depan para pekerja apabila operasional proyek sampai terhenti.

“Kalau operasional Awak Mas ditutup, kami mau ke mana?” keluhnya.

Pertanyaan itu mencerminkan kegelisahan pekerja yang tidak hanya mempertaruhkan penghasilan hari ini, tetapi juga masa depan pendidikan dan keluarganya di tengah ketidakpastian yang belum menemukan titik terang.

 

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *