Pemdes Sampa Tetapkan Jadwal Tanam April–September, Perkuat Tradisi dan Ketahanan Pangan

Info Publik30 Dilihat

Metroluwuraya.com, Luwu | Pemerintah Desa Sampa, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menggelar tradisi Tudang Sipulung sebagai forum musyawarah untuk menetapkan jadwal masa tanam periode April–September (A-SEP) tahun ini.

Kegiatan yang sarat nilai budaya tersebut dihadiri berbagai unsur, mulai dari Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bajo dan Kecamatan Kamanre, Camat Bajo, perwakilan Dinas Perikanan, UPTD Pengairan, hingga para kepala desa dari wilayah sekitar seperti Desa Balla, Jambu, dan Seppong. Turut hadir pula perwakilan KUA Bajo, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, ketua kelompok tani, serta warga Desa Sampa.

Kepala Desa Sampa, Arfand, menegaskan bahwa Tudang Sipulung bukan sekadar forum teknis pertanian, tetapi juga merupakan warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.

“Tudang Sipulung merupakan tradisi yang masih terjaga di desa kami dan kami anggap sebagai warisan dari para pemangku adat terdahulu,” ujarnya.

Dari hasil musyawarah, disepakati bahwa masa tanam untuk periode A-SEP akan dimulai pada 8 hingga 24 Juni dengan metode Tabela (tanam benih langsung). Penetapan jadwal ini diharapkan dapat meningkatkan keseragaman tanam, mengoptimalkan pengelolaan air, serta meminimalkan risiko serangan hama.

Lebih dari itu, Tudang Sipulung juga memiliki makna sosial dan spiritual bagi masyarakat tani. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh sekaligus menjadi ajang silaturahmi antarwarga.

“Ini juga bisa dibilang sebagai pesta panen, bentuk rasa syukur petani, sekaligus doa bersama agar musim tanam berikutnya diberkahi dan menghasilkan panen yang melimpah,” tambah Arfand.

Melalui perpaduan antara kearifan lokal dan perencanaan pertanian yang terkoordinasi, kegiatan ini dinilai menjadi salah satu model penguatan ketahanan pangan berbasis budaya di daerah.

 

(*)

Komentar