MDA dan Pokja Lanjutkan Forum Desa di Enam Wilayah Lingkar Tambang dan Jalur Akses Awak Mas

MDA334 Dilihat

Metroluwuraya.com | PT Masmindo Dwi Area (MDA) bersama Kelompok Kerja Percepatan Investasi Kabupaten Luwu (Pokja) kembali melanjutkan kegiatan Forum Desa (FORDES) di enam desa sekitar wilayah tambang dan jalur akses Proyek Awak Mas. Keenam desa tersebut meliputi Bonelemo, Tettekang, Marinding, Ulusalu, Rumaju, dan Tolajuk.

Agenda ini merupakan bagian dari upaya komunikasi rutin yang dirancang untuk menjaga agar setiap tahapan pembangunan berjalan terbuka, terdokumentasi dengan baik, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah tambang.

Sekretaris Pokja, Zulkarnaim, menegaskan bahwa FORDES bukan sekadar forum diskusi biasa, melainkan wadah resmi penyampaian aspirasi yang menghubungkan langsung masyarakat dengan pemerintah dan pihak perusahaan.

“Peran Pokja adalah menjembatani kepentingan warga, pemerintah, dan MDA. Prinsipnya sederhana – aspirasi harus didengar, ditindaklanjuti, dan dikawal prosesnya. Melalui FORDES, kami berupaya menciptakan komunikasi yang jujur, terbuka, dan meminimalkan kesalahpahaman,” jelas Zulkarnaim.

Dalam pertemuan di enam desa tersebut, warga banyak menyampaikan masukan terkait peningkatan infrastruktur jalan, keselamatan lalu lintas, penanganan debu di jalur proyek, hingga transparansi informasi mengenai tenaga kerja.

Selain itu, masyarakat juga berharap adanya program pelatihan keterampilan bagi para pemuda lokal sebagai persiapan menghadapi fase pembangunan aktif.

Di sisi lain, sejumlah desa menyoroti potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan, terutama di sektor pertanian dan UMKM. Misalnya, warga Bonelemo mendorong penguatan budidaya nilam dan pengembangan kelompok usaha kerajinan tangan Lito. Sementara di Tolajuk, muncul usulan peningkatan kapasitas pengelolaan usaha koperasi Merah Putih dan kelompok tani.

Adapun masyarakat Ulusalu mengajukan permintaan reboisasi pada area bekas longsor serta dukungan bantuan bibit tanaman buah dan ikan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi desa.

Perwakilan Pokja, Dr. Maman, menilai partisipasi masyarakat dalam FORDES sebagai bentuk pengawasan sosial yang sehat dan konstruktif.

“Setiap catatan dan masukan warga kami dokumentasikan untuk proses tindak lanjut. Forum seperti ini penting agar pembangunan tak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran dan sesuai prinsip keberlanjutan,” ungkapnya.

Untuk memperluas akses informasi, MDA juga telah menempatkan materi sosialisasi dan flyer mekanisme pengaduan (grievance mechanism) di kantor desa dan sejumlah rumah ibadah. Melalui sistem ini, masyarakat dapat menyampaikan keluhan maupun pertanyaan secara resmi dan terdokumentasi.

Kepala Teknik Tambang (KTT) MDA, Mustafa Ibrahim, menyebut FORDES sebagai wujud nyata komitmen perusahaan menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar tambang.

“Setiap desa memiliki karakteristik dan potensi tersendiri. Karena itu, kami ingin mendengar langsung dari warga agar kolaborasi yang dibangun benar-benar bermanfaat,” ujar Mustafa.

Ia menambahkan, hasil diskusi dan masukan dari enam desa ini akan menjadi bahan utama dalam penyusunan program lanjutan bersama Pokja.

“Kami berharap forum ini tidak berhenti di tahap penjaringan aspirasi, tetapi berkembang menjadi kerja sama nyata yang memperkuat kemandirian desa serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” tutupnya.

Rangkaian FORDES di enam desa ini mempertegas komitmen MDA dan Pokja dalam menjaga ruang dialog yang terbuka antara masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan. Dengan mekanisme komunikasi yang transparan serta tindak lanjut yang terukur, pembangunan Proyek Awak Mas diharapkan berlangsung partisipatif, inklusif, dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

 

 

(*)

Komentar