LUWU| Metroluwuraya.com — PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) menghadapi tekanan serius terhadap operasional smelter menyusul menurunnya debit air yang menjadi salah satu sumber utama pembangkit listrik perusahaan.
Kondisi tersebut disebut berada pada titik terendah dalam lima tahun terakhir. Keterbatasan pasokan listrik kemudian berimbas langsung terhadap aktivitas produksi smelter BMS.
Penurunan debit air dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem serta fenomena El Niño yang berdampak terhadap ketersediaan air sebagai sumber energi pembangkit. Akibatnya, kemampuan pembangkit dalam memasok kebutuhan listrik untuk kegiatan produksi mengalami penurunan signifikan.
Dampak kondisi tersebut mulai dirasakan dalam tiga bulan terakhir. Tingkat produksi smelter mengalami penurunan karena pasokan listrik tidak lagi mampu menopang operasional pada kapasitas normal.
Situasi semakin berat pada 16 Agustus 2026. BMS terpaksa menghentikan sementara pengoperasian salah satu tungku karena daya listrik yang tersedia tidak mencukupi untuk mendukung kegiatan produksi secara normal.
Penurunan produksi tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap beban operasional perusahaan. Biaya yang harus dikeluarkan dinilai tidak lagi sebanding dengan tingkat produksi yang dapat dicapai.
Sebagai langkah efisiensi sekaligus menjaga keberlangsungan perusahaan, manajemen BMS kemudian mengambil sejumlah kebijakan pengendalian biaya, termasuk merumahkan sementara sebagian karyawan.
Kebijakan tersebut disebut bukan keputusan yang mudah. Langkah itu diambil setelah perusahaan sebelumnya melakukan berbagai upaya efisiensi untuk mempertahankan kegiatan operasional di tengah keterbatasan pasokan listrik.
Meski dirumahkan sementara, para pekerja tersebut tetap berstatus sebagai karyawan BMS. Selama masa tersebut, perusahaan melakukan penyesuaian terhadap upah, sementara kepesertaan dan perlindungan jaminan sosial tetap dipertahankan.
Manajemen BMS juga menyatakan akan terus memantau dan mengevaluasi perkembangan kondisi pembangkit serta aktivitas produksi smelter.
Jika kondisi pembangkit kembali membaik dan produksi dapat berjalan normal, karyawan yang dirumahkan sementara akan menjadi prioritas untuk dipanggil kembali secara bertahap sesuai kebutuhan operasional perusahaan.
Kebijakan perumahan sementara tersebut menjadi bagian dari strategi BMS menghadapi keterbatasan energi akibat rendahnya debit air. Langkah efisiensi ditempuh untuk menjaga keberlangsungan perusahaan sembari menunggu kondisi sumber energi kembali mendukung operasional smelter.
(*)






