Metroluwuraya.com| Wacana Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menunjuk siswi SMA Negeri 1 Pontianak, Josepha Alexandra, sebagai Duta Lomba Cerdas Cermat (LCC) MPR RI menuai banyak dukungan. Salah satu dukungan datang dari Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Fraksi Demokrat, Fadriaty Asmaun.
Fadriaty menilai langkah MPR RI tersebut layak diapresiasi karena Ocha – sapaan akrab Josepha Alexandra – dinilai mampu menunjukkan sikap kritis, keberanian, dan etika saat menyampaikan protes terhadap hasil penilaian dewan juri pada ajang LCC Empat Pilar MPR RI.
“Menurut saya ini langkah yang baik. Ocha berani menyampaikan pendapat dan keberatan secara santun. Ia meyakini jawaban yang disampaikan lebih dulu itu benar, dan keberanian seperti itu memang pantas diapresiasi,” ujar Fadriaty, Jumat (22/5/2026).
Ia juga menyebut Ocha sebagai representasi pelajar berprestasi yang dapat menjadi teladan bagi generasi muda. Menurutnya, siswi tersebut mencerminkan sosok Kartini muda yang berani memperjuangkan kebenaran tanpa meninggalkan sikap sopan.
“Bukan hanya cerdas, Ocha juga punya keberanian menyuarakan apa yang diyakininya benar dengan cara yang elegan. Karakter seperti ini jarang dimiliki pelajar seusianya,” lanjutnya.
Polemik tersebut bermula saat babak final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat berlangsung di Pontianak. Ketika itu, Josepha Alexandra menyampaikan keberatan atas keputusan dewan juri setelah jawaban yang ia berikan lebih dulu dinyatakan salah dan menyebabkan pengurangan poin bagi timnya, sementara jawaban serupa dari peserta lain justru dianggap benar.
Ajang tersebut diikuti tiga sekolah, yakni SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 1 Sambas, dan SMA Negeri 1 Sanggau. Keputusan dewan juri yang terdiri dari Dyastasita W.B. dan Indri Wahyuni kemudian menjadi sorotan publik hingga ramai diperbincangkan di media sosial karena dianggap terjadi kekeliruan penilaian.
Di tengah polemik itu, MPR RI sempat merencanakan pelaksanaan ulang final LCC Empat Pilar 2026 tingkat Kalimantan Barat. Namun rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah SMA Negeri 1 Pontianak dan SMA Negeri 1 Sambas menyatakan tidak menginginkan pertandingan ulang.
Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, menyebut keputusan tersebut telah menjadi kesepakatan bersama di lingkungan MPR RI.
Dukungan Fadriaty terhadap dunia cerdas cermat ternyata bukan tanpa alasan. Ia diketahui pernah menorehkan prestasi sebagai juara Cerdas Cermat P4 tingkat Kabupaten Luwu bersama rekan-rekannya saat masih bersekolah di SMP Negeri 1 Suli. Prestasi itu mengantarkannya mewakili Kabupaten Luwu ke tingkat Provinsi Sulawesi Selatan pada era Orde Baru.
Kala itu, wilayah Palopo, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur masih berada dalam satu wilayah administratif Kabupaten Luwu. Setelah era Reformasi dan berakhirnya program penataran P4, pendidikan kebangsaan kemudian berkembang melalui sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang kini diwujudkan lewat berbagai kegiatan edukatif, termasuk lomba cerdas cermat bagi pelajar.
(*)






