3.048 Hektare Sawah Luwu Terancam Kekeringan, Petani Balo-Balo Butuh Pompa Air

LUWU| METROLUWURAYA.COM – Petani di Kelurahan Balo-Balo, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, berpacu dengan waktu menyelamatkan tanaman padi dari ancaman gagal panen akibat kekeringan yang telah berlangsung sekitar tiga bulan.

Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi pada tanaman padi yang kini memasuki fase bunting hingga mulai mengeluarkan bulir. Pada fase ini, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar bulir dapat berkembang dan terisi sempurna.

Salah seorang petani, Ridwan, mengatakan minimnya pasokan air membuat pertumbuhan bulir padi tidak berlangsung secara bersamaan.

“Padi yang mulai mengeluarkan bulir ini tidak bersamaan akibat pengaruh air yang minim karena sedang bunting dan butuh air,” kata Ridwan, Rabu (9/9/2026).

Karena saluran irigasi tidak lagi mampu memasok air, petani terpaksa mengambil air dari sungai menggunakan pompa. Namun, keterbatasan mesin pompa dan mahalnya biaya bahan bakar menjadi kendala.

Bahkan, air yang telah dipompa ke sawah cepat kembali menghilang. Saat pompa dimatikan pada malam hari, kondisi lahan kembali kekurangan air pada pagi harinya.

“Kalau pompa misalnya dimatikan malam, paginya air sudah habis lagi akibat kekeringan,” ujarnya.

Ridwan khawatir, jika tanaman tidak segera mendapat pasokan air, bulir padi akan layu dan tidak terisi sempurna.

“Kalau beberapa hari ke depan ini tidak mendapat pasokan air, bulirnya akan layu dan tidak berisi,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah maupun pihak swasta segera memberikan bantuan mesin pompa air agar tanaman padi yang masih berpeluang diselamatkan tidak berakhir gagal panen.

“Soal apakah biaya dengan hasil sebanding kalau dipompa itu belakangan. Yang penting kita selamatkan dulu padi,” tegasnya.

15 Persen Sawah Balo-Balo Terdampak

Lurah Balo-Balo, Salahuddin, mengatakan wilayahnya memiliki sekitar 337 hektare area persawahan. Lebih dari 15 persen di antaranya terdampak kekeringan.

Dua wilayah yang paling terdampak berada di Lingkungan Rasai dan Balalau.

Menurut Salahuddin, sebagian lahan di Rasai masih dapat diselamatkan karena terdapat sungai yang bisa dimanfaatkan untuk pompanisasi.

Sementara itu, tanaman yang ditanam lebih terlambat kini memasuki fase bunting dan membutuhkan pasokan air untuk mempertahankan pertumbuhan hingga pengisian bulir.

“Yang terlambat masuk kategori masih bisa diselamatkan karena masih bunting, belum membuah bulir. Tapi masih perlu stok air untuk pemeliharaannya,” jelasnya.

Salahuddin berharap bantuan pompa air dapat segera diberikan. Untuk jangka panjang, ia mengusulkan pembangunan sumur bor atau sistem pompanisasi yang memanfaatkan sumber air bawah tanah.

“Untuk jangka panjangnya, kalau bisa pompanisasi atau sumur bor dengan mengandalkan air di bawah tanah. Setiap waktu kalau misalnya ada kekeringan lagi, itu bisa dimanfaatkan,” harapnya.

3.048 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Ancaman kekeringan juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Luwu.

Data Dinas Pertanian Luwu mencatat sekitar 3.048,88 hektare sawah terancam mengalami kekeringan, sementara sekitar 109,88 hektare telah terdampak cukup berat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Luwu, Nasrawati, mengatakan Kecamatan Belopa menjadi salah satu wilayah yang cukup banyak menghadapi ancaman kekeringan, dengan sekitar 323 hektare sawah terdampak.

Lahan tersebut tersebar di Desa Senga Selatan 87,80 hektare, Balubu 103,2 hektare, Kurrusumanga 55 hektare, Balo-Balo 54 hektare, Senga 5 hektare, dan Tampumia Radda 30 hektare.

Menurut Nasrawati, sebagian petani mulai kesulitan memperoleh pasokan air sehingga pompa menjadi salah satu kebutuhan mendesak.

Bagi petani, keselamatan tanaman kini menjadi prioritas. Bantuan mesin pompa, bahan bakar, maupun dukungan pompanisasi dinilai penting agar sumber air yang masih tersedia dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan tanaman hingga masa panen.

Jika pasokan air tidak segera tersedia, petani menghadapi risiko kehilangan hasil panen sekaligus menanggung biaya produksi yang telah dikeluarkan selama berbulan-bulan.

 

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *