LUWU| METROLUWURAYA.COM – Upaya memperkokoh kerukunan antarumat beragama sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan terus didorong Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Luwu.
Hal tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kerukunan, Cinta Kemanusiaan dan Penguatan Ekoteologi” yang digelar di Ruang Lounge Bupati Luwu, Rabu (16/9/2026).
Forum tersebut menjadi wadah dialog bagi para pemuka agama dan berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat komunikasi lintas agama. Selain membahas kerukunan, peserta juga diajak melihat persoalan kemanusiaan dan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Muh. Rudi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Luwu H. Sukardi Yusuf, S.Ag., M.M., Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Luwu Hj. Enrika, S.E., M.Si., Ketua FKUB Kabupaten Luwu Drs. H. Armin M., S.Sos.I., jajaran pimpinan perangkat daerah, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, para pemateri serta peserta FGD FKUB se-Kabupaten Luwu.
Dalam sambutannya, Muh. Rudi mengatakan Luwu merupakan daerah yang dihuni masyarakat dengan latar belakang yang beragam, baik agama, suku, budaya maupun kondisi sosial.
Menurutnya, keberagaman tersebut merupakan modal sosial yang perlu dipelihara secara bersama-sama. Perbedaan, kata dia, seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami dan memperkuat persatuan, bukan justru menjadi pemicu perpecahan.
“Perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan untuk membangun persatuan dan memperkokoh kehidupan sosial masyarakat,” ujar Muh. Rudi.
Ia juga menilai FKUB memiliki posisi penting dalam menjaga komunikasi dan membangun hubungan harmonis antarumat beragama di Kabupaten Luwu.
Peran FKUB, lanjutnya, diharapkan tidak sebatas hadir ketika muncul persoalan. Forum tersebut juga perlu aktif membangun komunikasi, dialog dan kolaborasi lintas agama sebagai langkah preventif dalam menjaga stabilitas kehidupan sosial masyarakat.
Muh. Rudi turut mengajak para tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat untuk menumbuhkan semangat cinta kemanusiaan melalui sikap saling peduli, toleransi dan solidaritas.
“Saya berharap semangat cinta kemanusiaan ini dapat terus dikembangkan oleh seluruh tokoh agama dan elemen masyarakat di Kabupaten Luwu sehingga tercipta kehidupan sosial yang penuh kepedulian, toleransi dan solidaritas,” katanya.
Selain persoalan kerukunan dan kemanusiaan, FGD tersebut turut mengangkat isu ekoteologi, yakni pemahaman mengenai hubungan manusia dengan lingkungan yang dikaitkan dengan nilai-nilai moral dan spiritual.
Muh. Rudi menjelaskan, menjaga lingkungan bukan semata-mata persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan.
“Alam bukan hanya tempat kita hidup, tetapi juga merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang harus kita jaga, rawat dan lestarikan,” ungkapnya.
FGD ini sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan pemuka agama dengan berbagai unsur masyarakat guna memperkuat komunikasi serta membangun kerja sama dalam menjaga kerukunan di Kabupaten Luwu.
Sejumlah tujuan menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut, di antaranya memperkuat dialog antarpemuka agama, meningkatkan toleransi, menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan serta mendorong kolaborasi lintas agama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
Pembahasan juga diarahkan pada pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Para tokoh agama diharapkan dapat mengambil peran dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya merawat lingkungan melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan.
Tiga pemateri hadir memberikan perspektif dalam forum tersebut, yakni Kepala Kesbangpol Kabupaten Luwu Hj. Enrika, S.E., M.Si., Ketua FKUB Kabupaten Luwu Drs. H. Armin M., S.Sos.I., serta Pastor Paroki St. Petrus Padang Sappa, Pastor Oktovianus Tandilolo, Pr.
Melalui FGD tersebut, FKUB Luwu berharap komunikasi dan hubungan antarpemuka agama semakin kuat. Pemahaman mengenai toleransi dan kerukunan juga diharapkan semakin tumbuh di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, forum tersebut diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas agama dalam bidang sosial dan kemanusiaan sekaligus melahirkan gerakan kepedulian lingkungan yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Hasil pembahasan FGD selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi bagi FKUB maupun Pemerintah Kabupaten Luwu dalam merumuskan langkah-langkah untuk memperkuat kerukunan umat beragama dan kepedulian sosial serta lingkungan di Kabupaten Luwu.
(*)






