Hadapi Kemarau 2026, Tudang Sipulung Ponrang Selatan Perkuat Strategi Tanam

Info Publik77 Dilihat

Metroluwuraya.com| Pemerintah Kecamatan Ponrang Selatan menggelar forum tudang sipulung di Pasar Tradisional Desa Bakti, Sabtu (2/5/2026), sebagai wadah koordinasi menghadapi musim tanam sekaligus mengantisipasi potensi musim kemarau.

Mengusung tema “Menyatukan Hati, Mempererat Silaturahmi, Melestarikan Warisan Budaya”, kegiatan ini dihadiri sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Luwu Ruslan, Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Andi Hidayat, Kapolsek Ponrang Edi Syamsuri, perwakilan Danramil melalui Babinsa Sertu Muh. Darwis, Camat Ponrang Selatan Muhammad Kasim, serta unsur teknis, penyuluh, aparat desa, tokoh masyarakat, dan kelompok tani.

Koordinator Penyuluh Pertanian Ponrang Selatan, Hasri, menjelaskan bahwa suplai air untuk mendukung percepatan pengolahan lahan dan penanaman telah mulai dioptimalkan. Ia menyebutkan, pihak pengairan PSDA Ranting Padang Sappa telah membuka pintu air sejak 20 April 2026.

“Petani disarankan menerapkan pola irigasi berselang (basah-kering) serta melakukan pemupukan berimbang dengan dosis 250 kilogram urea per hektare dan 300 kilogram NPK Phonska per hektare, yang diberikan secara bertahap dalam satu musim tanam,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Luwu, Andi Hidayat, mengingatkan pentingnya disiplin terhadap kalender tanam yang telah disusun.

“Penanaman harus dilakukan sesuai jadwal, pengendalian hama—terutama tikus—dilaksanakan secara serentak, penggunaan air dihemat, dan benih yang digunakan harus sesuai rekomendasi penyuluh,” tegasnya.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Luwu, Yusri, turut memaparkan prediksi musim dari BMKG. Ia menyebutkan bahwa kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada Juli dan mencapai puncaknya pada September 2026.

“Potensi penurunan curah hujan bisa berdampak pada kekeringan di sejumlah wilayah. Karena itu, perlu langkah antisipatif seperti pengaturan jadwal tanam, pemilihan varietas tahan cekaman, serta pengendalian hama dan penyakit sejak dini,” jelasnya.

Menurutnya, kolaborasi antara petani, penyuluh, POPT, dan instansi terkait menjadi faktor penting dalam menjaga keberhasilan musim tanam di tengah tantangan iklim.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perdagangan Luwu, Ruslan, mengungkapkan rencana peningkatan fasilitas Pasar Tradisional Desa Bakti, sekaligus menyoroti praktik perdagangan yang merugikan petani.

Ia menegaskan agar penggunaan timbangan gantung (dacing) dihentikan dan diganti dengan timbangan duduk untuk menjamin akurasi transaksi.

“Seluruh aktivitas penimbangan harus menggunakan timbangan duduk agar lebih transparan dan adil,” ujarnya.

Ruslan juga menanggapi keluhan petani terkait praktik tengkulak yang kerap memotong berat hasil panen hingga mencapai 5 kilogram.

Selain itu, ia meminta pedagang menggunakan modal pribadi dalam transaksi, yang nantinya akan diganti melalui mekanisme dinas.

Ia menambahkan, sejumlah fasilitas pasar seperti toilet dan kran air di setiap los akan segera dibenahi guna meningkatkan kenyamanan pedagang dan pengunjung.

Forum tudang sipulung ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi musim tanam, sekaligus mendorong terciptanya sistem perdagangan yang lebih transparan dan berpihak kepada petani.

 

(*)

Komentar