Metroluwuraya.com | Seorang mahasiswa berinisial AA mengalami penganiayaan berat di sebuah sekretariat mahasiswa di Kota Palopo pada Senin malam. Ia diduga dikeroyok oleh tetangganya sendiri, AY, bersama beberapa temannya. Pengeroyokan itu dipicu tudingan bahwa aktivitas belajar dan pengajian di sekretariat sering mengganggu, padahal warga sekitar menilai para mahasiswa selama ini justru banyak berkontribusi positif.
Peristiwa terjadi pada Senin, 24 November 2025, antara pukul 21.10-21.30 WITA. Saat itu AA berada di teras sekretariat bersama kawannya sambil menggunakan ponsel. Tempat tersebut memang rutin digunakan untuk kegiatan belajar, diskusi, pengajian, hingga aksi sosial mahasiswa. Namun, kegiatan itu telah beberapa kali dipersoalkan oleh AY.
Padahal, jarak rumah AY ke sekretariat kurang lebih 20-25 meter. Ironisnya, penghuni rumah lain yang tinggal lebih dekat-bahkan hanya satu meter dari lokasi-mengaku tidak pernah merasa terganggu.
Pada sekitar pukul 21.10 WITA, AY tiba di sekretariat dan langsung bertanya dengan suara tinggi, “Siapa penanggung jawab di tempat ini?” Menurut penuturan Muhammad Teguh, rekan korban, AA menjawab bahwa dialah penanggung jawabnya. Namun belum sempat selesai berbicara, AY langsung menampar wajah AA.
AA pun sempat berkata, “Kenapa langsung main tangan? Kita bisa bicarakan baik-baik.” Namun pelaku bersikukuh telah sering memperingatkan mahasiswa mengenai aktivitas yang menurutnya meresahkan.
Tak lama kemudian, pelaku memanggil beberapa rekannya. Mereka menyeret AA ke dalam ruangan sekretariat dan melakukan pengeroyokan brutal hingga rahang korban patah dan darah mengucur dari mulut. Muh. Fiki Pratama, saksi lainnya, menuturkan bahwa AY juga mengancam mahasiswa lain yang berusaha menolong.
“Kalau kalian berani melapor, kalian akan kami habisi di sini,” ujar Fiki menirukan ancaman pelaku.
Para saksi mencium aroma minuman beralkohol pada tubuh para pengeroyok dan menduga mereka berada dalam pengaruh miras saat kejadian berlangsung. Akibat luka parah, AA segera dilarikan ke RS Mega Buana Palopo untuk penanganan medis.
Sementara itu, warga sekitar lokasi justru membantah kabar bahwa keberadaan mahasiswa mengganggu kenyamanan lingkungan. Mereka menyebut, mahasiswa di sekretariat tersebut kerap membantu warga dalam berbagai kegiatan dan tidak pernah membuat keributan.
“Buat kami, mereka justru banyak membantu. Kami tidak pernah merasa terusik,” ujar salah satu warga.
Warga lain menambahkan bahwa mahasiswa justru memberi dampak positif pada lingkungan. Hanya AY yang sering mempermasalahkan keberadaan mereka.
Hingga berita ini tayang, pihak kepolisian belum menyampaikan keterangan resmi terkait proses hukum kasus pengeroyokan ini. Masyarakat dan rekan-rekan korban berharap pelaku diproses tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
(*)


Komentar