Amek, Polisi Humanis Satlantas Polres Luwu yang Selalu Hadir di Tengah Warga

LUWU | METROLUWURAYA.COM – Seragam cokelat mungkin menjadi identitasnya sebagai anggota Polri. Namun bagi banyak warga Kabupaten Luwu, Aiptu Andi Makkaterru lebih dikenal melalui satu hal yang sederhana: keramahan.

Di lingkungan Satlantas Polres Luwu, namanya akrab disapa Amek. Sapaan itu pun bukan hanya datang dari rekan seprofesi. Jurnalis, pelajar, tokoh masyarakat hingga warga biasa mengenalnya dengan panggilan yang sama.

Selama bertahun-tahun berdinas, Amek membangun kedekatan dengan masyarakat melalui cara yang sederhana-menyapa, berkomunikasi dan hadir ketika dibutuhkan.

Ia merupakan personel Unit Turjawali Satlantas Polres Luwu. Tugasnya bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat di jalan raya. Namun bagi Amek, tugas kepolisian tidak berhenti pada mengatur arus lalu lintas atau menegakkan aturan.

Ada ruang yang lebih luas, yakni bagaimana polisi bisa membuat masyarakat merasa dilayani, dilindungi dan dihargai.

Bukan Sekadar Polisi di Jalan Raya

Bagi sebagian masyarakat, polisi lalu lintas identik dengan peluit, pengaturan kendaraan dan penindakan terhadap pelanggaran.

Namun sosok Amek menghadirkan sisi lain dari pekerjaan tersebut.

Ia dikenal mudah bergaul dan tidak membangun jarak dengan masyarakat. Dari pejabat daerah hingga warga biasa, dari jurnalis hingga pelajar, Amek terbiasa berkomunikasi tanpa melihat latar belakang orang yang dihadapinya.

Kedekatan itu tidak lahir karena jabatan. Ia tumbuh dari interaksi panjang selama menjalankan tugas dan berbaur dengan masyarakat.

Karakter tersebut pula yang membuat sosok Amek cukup dikenal di berbagai lingkungan di Kabupaten Luwu.

Satu Foto yang Menggambarkan Sisi Humanis Amek

Salah satu cerita yang paling kuat menggambarkan karakter Amek terjadi ketika banjir melanda Kecamatan Suli beberapa tahun lalu.

Di tengah situasi bencana, ia ikut membantu proses evakuasi warga.

Sebuah foto yang diabadikan wartawan di Luwu merekam momen ketika Amek menggendong seorang lansia untuk keluar dari kawasan terdampak banjir.

Tidak ada panggung. Tidak ada seremoni.

Hanya seorang polisi yang membantu seorang warga yang membutuhkan pertolongan.

Foto tersebut kemudian meraih juara pertama dalam kontes foto polisi humanis yang digelar Polres Luwu.

Bagi Amek, mungkin itu hanyalah bagian dari tugas kemanusiaan. Namun bagi orang yang melihatnya, gambar tersebut menjadi potret sederhana tentang bagaimana seharusnya seorang anggota kepolisian hadir ketika masyarakat berada dalam keadaan sulit.

Dekat dengan Pelajar, Mengedepankan Edukasi

Di jalan raya, Amek juga memiliki pendekatan tersendiri ketika berhadapan dengan pelajar.

Ia tidak sekadar melihat pelanggaran sebagai alasan untuk memberikan tindakan. Edukasi menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran berlalu lintas.

Pelajar SMP maupun SMA yang ditemuinya kerap diberikan pemahaman mengenai penggunaan helm, kelengkapan kendaraan dan pentingnya menjaga keselamatan saat berkendara.

Cara penyampaiannya pun lebih banyak menggunakan pendekatan komunikasi.

Bagi Amek, aturan akan lebih mudah dipahami ketika disampaikan dengan cara yang baik.

“Kalau kita bisa memberikan pemahaman dengan cara yang baik, tentu akan lebih mudah diterima. Tujuan utama kita adalah keselamatan masyarakat,” menjadi prinsip yang ia pegang dalam menjalankan tugas.

Pendekatan itu membuat interaksi dengan pelajar terasa lebih cair.

Tidak sedikit pelajar yang kemudian tetap menyapa Amek ketika bertemu di luar tugas. Hubungan yang terbangun bukan lagi sekadar antara polisi dan masyarakat, tetapi juga sebagai bentuk kedekatan sosial.

Humanis, tetapi Tetap Tegas

Keramahan bukan berarti kehilangan ketegasan.

Di balik sosoknya yang mudah bergaul, Amek tetap menjalankan tugas sebagai anggota Polri dengan disiplin.

Sebagai personel Unit Turjawali Satlantas Polres Luwu, ia tetap menjalankan pengaturan, penjagaan dan patroli lalu lintas sesuai tugas dan tanggung jawabnya.

Di lingkungan kerja, ia dikenal sebagai personel yang patuh terhadap aturan, loyal terhadap pimpinan dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

Baginya, menjadi polisi humanis bukan berarti mengabaikan aturan.

Justru pendekatan humanis dan ketegasan dapat berjalan bersama. Masyarakat perlu diperlakukan dengan baik, tetapi keselamatan dan ketertiban di jalan tetap menjadi prioritas.

26 Tahun Bersama Masyarakat Luwu

Amek lahir di Wajo pada 1978.

Sekitar 26 tahun pengabdiannya di Polres Luwu membuat perjalanan hidupnya tidak bisa dipisahkan dari masyarakat di daerah ini.

Selama lebih dari dua dekade, ia menyaksikan perubahan masyarakat, perkembangan wilayah dan dinamika tugas kepolisian dari dekat.

Tak heran jika wajah dan sapaan Amek kemudian menjadi familiar bagi banyak orang.

Di luar tugas kepolisian, kehidupan Amek juga berjalan sederhana. Ia merupakan ayah dari enam anak.

Kesederhanaan itu tetap menjadi bagian dari dirinya meski puluhan tahun telah dihabiskan dalam pengabdian sebagai anggota Polri.

Bagi Amek, seragam kepolisian bukan hanya identitas.

Ada tanggung jawab yang melekat di baliknya: melayani, melindungi dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Karena itu, kehadiran polisi menurutnya tidak seharusnya hanya dirasakan ketika terjadi pelanggaran atau persoalan hukum.

Polisi juga harus hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

Pesan tersebut kembali ia sampaikan bertepatan dengan Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71.

Ia mengajak masyarakat Kabupaten Luwu untuk membangun budaya tertib berlalu lintas secara bersama-sama.

Menurutnya, mematuhi aturan bukan sekadar persoalan menghindari sanksi. Lebih dari itu, tertib berlalu lintas merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.

Polisi yang Hadir, Bukan Hanya Mengawasi

Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 tahun ini mengusung tema “Satlantas Hadir Bersama Masyarakat, Mewujudkan Keselamatan Menuju Indonesia Makmur.”

Bagi Amek, tema tersebut sejalan dengan semangat pengabdian yang selama ini dijalankannya.

Sebab, kehadiran polisi di tengah masyarakat bukan hanya tentang penegakan aturan.

Ada komunikasi. Ada edukasi. Ada perlindungan. Ada kepedulian.

Dan terkadang, kehadiran itu cukup diwujudkan dengan hal sederhana—menyapa warga, memberikan pemahaman kepada pelajar, membantu korban bencana atau sekadar memastikan seseorang bisa pulang dengan selamat.

Selama sekitar 26 tahun mengabdi di Luwu, Amek menjadi salah satu wajah polisi yang dikenal melalui kedekatan dengan masyarakat.

Bukan karena ingin terlihat berbeda, melainkan karena baginya tugas kepolisian memiliki satu tujuan sederhana: hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *