LUWU| METROLUWURAYA.COM — Saat sebagian warga baru memulai aktivitas pagi, Ismail sudah lebih dulu berada di balik kemudi truk tangki. Bukan mengangkut barang, melainkan membawa puluhan ton air setiap hari untuk satu tugas: meredam debu di sepanjang jalan Desa Kadung, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Pria berusia 33 tahun itu memulai pekerjaannya sekitar pukul 07.00 Wita. Ia mengisi tandon truk hingga penuh di sungai, lalu bergerak menyusuri jalur yang menjadi lintasan kendaraan sekaligus lokasi pengerjaan kabel listrik tanam.
Sekali mengisi, tangki yang dikemudikannya mampu membawa 5.000 liter atau lima ton air.
Dalam sehari, Ismail bisa bolak-balik mengisi tangki hingga delapan kali. Artinya, sedikitnya 40.000 liter atau 40 ton air digunakan untuk menyiram jalan.
“Kalau pengisian bisa sampai delapan kali. Berarti 40.000 liter air disedot untuk menyiram jalan,” kata Ismail saat ditemui awak media, Jumat (4/9/2026) siang.
Penyiraman dilakukan untuk menekan debu yang muncul di sepanjang jalur pekerjaan. Kondisi jalan yang kering membuat material galian kabel mudah beterbangan ketika dilintasi kendaraan.
Keluhan warga sebelumnya muncul terutama saat cuaca panas dan hujan belum turun dalam waktu cukup lama.
Sejak Pagi Menyusuri Jalan
Setelah tangki penuh, Ismail langsung menjalankan truknya menuju rute penyiraman. Aktivitas itu berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 Wita.
Setelah beristirahat sejenak, ia kembali bekerja sekitar pukul 13.00 Wita.
Dalam satu hari, sedikitnya tiga kali ia melintasi jalur yang sama untuk memastikan permukaan jalan tetap basah dan debu tidak mudah beterbangan.
“Minimal tiga kali melintas untuk penyiraman,” ujarnya.
Rute penyiraman tidak hanya berada di Desa Saronda. Jalurnya membentang hingga wilayah perbatasan Desa Tobarru dan Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong.

“Selama proses penyiraman baik,” katanya.
Keluhan Warga Tetap Dipantau
Upaya meredam debu tersebut berjalan bersamaan dengan mekanisme pemantauan keluhan masyarakat.
Saat awak media mendatangi Pos 2 Kader Jaga Desa di Desa Kadundung, belum terdapat laporan warga mengenai aktivitas penggalian kabel tanam yang menyebabkan debu berlebih di jalan.
Meski demikian, kader yang ditemui memastikan setiap keluhan warga tetap akan diterima dan dicatat apabila sewaktu-waktu muncul.
“Semua laporan akan kita catat. Itu akan disampaikan ke koordinator, lalu diteruskan ke perusahaan,” katanya.
Ia mengatakan, setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti sesegera mungkin.
“Insyaallah, satu kali 24 jam keluhan itu akan direspons,” ujarnya.
Puluhan ton air yang disiramkan setiap hari menjadi salah satu upaya untuk mengurangi dampak debu selama pekerjaan berlangsung.
Di tengah jalan yang kering dan aktivitas kendaraan yang terus bergerak, Ismail pun terus berada di balik kemudi. Delapan kali mengisi tangki, tiga kali atau lebih menyusuri jalur, dan sekitar 40 ton air setiap hari-semuanya untuk menjaga jalan tetap basah dan debu tidak kembali mengganggu warga.
(*)






