Metroluwuraya.com| Baznas Tanggap Bencana Kota Palopo menggelar program Goes to School di SMP Negeri 13 Palopo dan SD Negeri 39 Kambo pada Jumat (8/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 yang bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai langkah penanggulangan bencana, seperti longsor, kebakaran, dan banjir.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.30 WITA itu dihadiri Wakil Ketua II Baznas Kota Palopo, Irsal Hamid, Wakil Ketua III Baznas Kota Palopo, Mustahrim T., beserta jajaran staf Baznas lainnya. Turut hadir Kepala SMP Negeri 13 Palopo, Suwarnita, dan Kepala SD Negeri 39 Kambo, Jumi’anto yang mendukung penuh pelaksanaan kegiatan tersebut.
Materi edukasi disampaikan oleh Komandan BTB Kota Palopo, Sukri, bersama tim relawan lainnya. Para siswa diberikan pemahaman mengenai jenis-jenis bencana, dampak yang dapat ditimbulkan, hingga cara menyelamatkan diri ketika situasi darurat terjadi.
Selain teori, siswa juga dikenalkan dengan jalur evakuasi, titik kumpul aman, serta pentingnya menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, makanan, minuman, obat-obatan, pakaian ganti, alat komunikasi, dan perlengkapan penerangan.
Kepala SMP Negeri 13 Palopo, Suwarnita, mengapresiasi program tersebut karena dinilai sangat bermanfaat bagi peserta didik. Menurutnya, edukasi mitigasi bencana perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak memahami langkah penyelamatan diri ketika menghadapi kondisi darurat.
Dalam sosialisasi itu, Baznas juga menjelaskan peran zakat dalam penanggulangan bencana sesuai Fatwa MUI Nomor 66, termasuk pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah melalui pengelolaan sampah mandiri guna meminimalkan risiko bencana.
Sementara itu, Wakil Ketua II Baznas Kota Palopo, Irsal Hamid, menegaskan bahwa Baznas terus berkomitmen menyalurkan zakat, infak, dan sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk untuk kegiatan sosial, bantuan pendidikan, hingga pembangunan rumah warga kurang mampu secara transparan dan sesuai aturan.
Kepala SD Negeri 39 Kambo, Jumi’anto, menyebut edukasi tersebut sangat relevan karena wilayah Kambo termasuk daerah rawan longsor. Ia berharap pengetahuan yang diberikan tidak hanya dipahami siswa, tetapi juga diteruskan kepada orang tua dan masyarakat sekitar agar kesadaran menjaga lingkungan semakin meningkat.
Meski hujan sempat mengguyur lokasi kegiatan, program edukasi tetap berlangsung dengan antusias. Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan mampu menjadi agen kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah maupun masyarakat sehingga risiko kerugian akibat bencana dapat ditekan seminimal mungkin.
(*)


Komentar