LUWU, Metroluwuraya.com | Kehadiran fasilitas penyulingan nilam di Desa Bonelemo, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, membawa angin segar bagi para petani setempat. Sarana yang dikelola oleh Koperasi Produsen Hasil Tani Masyarakat dengan dukungan PT Masmindo Dwi Area (MDA) ini dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa.
Ketua Koperasi Produsen Hasil Tani Masyarakat, Mahfud, mengungkapkan bahwa fasilitas tersebut merupakan unit penyulingan nilam pertama yang beroperasi di Desa Bonelemo. Sebelum tersedia fasilitas ini, petani harus mengangkut hasil panen mereka ke Desa Tumbubara atau Sampeang untuk diproses menjadi minyak nilam.
“Dengan adanya penyulingan di Bonelemo, petani tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh. Lokasinya lebih dekat sehingga menghemat waktu dan biaya transportasi,” ujarnya, Senin (8/6/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya petani harus menempuh jarak sekitar tujuh kilometer menuju lokasi penyulingan. Kini, keberadaan fasilitas di Dusun Baloa membuat proses pengolahan menjadi lebih efisien dan mudah dijangkau.
Fasilitas tersebut dilengkapi tiga unit ketel penyulingan yang masing-masing mampu menampung hingga 500 kilogram bahan baku nilam dalam satu kali proses. Dengan kapasitas itu, lebih dari satu ton bahan baku dapat diolah dalam satu siklus produksi.
“Setiap ketel mampu memproses sekitar 500 kilogram nilam. Dengan tiga ketel yang tersedia, kapasitas produksinya bisa mencapai lebih dari satu ton,” jelas Mahfud.
Proses penyulingan membutuhkan waktu antara 16 hingga 18 jam, bahkan bisa lebih lama tergantung kondisi bahan baku yang digunakan. Dari setiap ketel, rata-rata dihasilkan sekitar lima kilogram minyak nilam.
Dalam operasionalnya, koperasi melibatkan tenaga kerja khusus yang menangani proses penyulingan hingga pembongkaran bahan baku. Untuk setiap kali produksi, biaya yang dikenakan sebesar Rp1 juta.
“Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional seperti upah petugas, penyediaan kayu bakar, serta menjadi pemasukan koperasi guna menunjang keberlanjutan usaha,” terangnya.
Mahfud menambahkan, layanan penyulingan tidak hanya diperuntukkan bagi anggota koperasi. Petani yang belum bergabung pun dapat memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Kami membuka kesempatan bagi seluruh petani. Harapannya, mereka yang memanfaatkan fasilitas ini nantinya tertarik menjadi mitra maupun anggota koperasi,” katanya.
Saat ini koperasi memiliki enam pengurus aktif dan terus melakukan pendekatan kepada masyarakat guna memperkuat kelembagaan serta memperluas jaringan petani binaan.
Sebagai langkah pengembangan usaha, koperasi bersama PT MDA juga tengah mempersiapkan program pembibitan dan demplot nilam. Sebanyak 24 ribu bibit direncanakan ditanam untuk menjamin ketersediaan bahan baku di masa mendatang.
“Kami sedang menyiapkan lahan percontohan dan pembibitan. Sekitar 24 ribu bibit nilam akan ditanam sebagai bagian dari dukungan MDA terhadap pengembangan usaha masyarakat,” ungkap Mahfud.
Menurutnya, keberadaan fasilitas penyulingan yang terintegrasi dengan program budidaya nilam menjadi langkah penting dalam menghidupkan koperasi sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Desa Bonelemo, Salma, menyambut positif hadirnya fasilitas penyulingan pertama di wilayahnya. Ia menilai usaha yang dikelola koperasi tersebut memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan warga.
“Kehadiran penyulingan ini diyakini dapat mempercepat perputaran ekonomi masyarakat. Selain membantu petani memperoleh nilai tambah dari hasil panennya, juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru,” ujarnya.
Dengan beroperasinya fasilitas penyulingan nilam di Bonelemo, masyarakat kini tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga mulai terlibat dalam proses pengolahan yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi. Kolaborasi antara budidaya, pengolahan hasil, dan penguatan koperasi diharapkan menjadi fondasi bagi kemandirian ekonomi desa yang berkelanjutan.
(*)






