Tiar, Korban Bencana Palu yang Bertahan Hidup Sebagai Jukir Pasar Parimo

Metro Sulteng1043 Dilihat

Metroluwuraya.com, Sulteng – Menjadi juru parkir (jukir) di Pasar Sentral Parigi Moutong adalah jalan yang dipilih Baktiar Nurdin Daeng Tobo untuk bertahan hidup. Meski profesinya kerap dipandang sebelah mata, pria 43 tahun itu-yang akrab disapa Tiar-tetap menjalaninya dengan ketulusan. Dari balik kesederhanaannya, tersimpan luka bencana sekaligus harapan untuk mengubah nasib.

Tiar lahir di Kota Palu dari pasangan Nurdin Daeng Tobo berdarah Makassar dan Tini yang berasal dari Toraja. Ia merupakan salah satu dari 14 bersaudara. Namun, kebahagiaan keluarganya runtuh ketika gempa, tsunami, dan likuefaksi 28 September 2018 melanda Palu. Bencana itu merenggut nyawa kedua orangtuanya.

Sejak saat itu, Tiar meninggalkan Palu dan ikut bersama kakaknya merantau ke Parigi Moutong. Mereka sempat bekerja sebagai buruh bangunan sebelum akhirnya Tiar memilih menjadi jukir di Pasar Sentral Parimo.

Hidupnya pun berpindah ke pelataran pasar. Tanpa dinding, tanpa kasur. Hanya beralaskan potongan kardus dan mengandalkan fasilitas umum pasar untuk mandi serta kebutuhan lainnya.

Setiap hari, Tiar membantu mengatur kendaraan dan mendapat penghasilan sekitar Rp20 ribu hingga Rp40 ribu. Uang itu sebagian ia setorkan ke seorang petugas parkir yang ia panggil “Opa”, sosok yang ia anggap atasan.

“Di sini saya hanya ikut sama Opu, Pak. Jadi setiap hari kami setor ke beliau,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Meski tampak tegar, ada kalanya mata Tiar berkaca-kaca saat bercerita. Hidup sebagai jukir memang berat, namun ia masih menyimpan mimpi sederhana: bisa memiliki usaha dagang sendiri di pasar tempatnya bekerja.

“Saya ingin berdagang di pasar ini, Pak,” katanya pelan, seolah menyimpan harapan yang terus ia genggam.

Kini, Tiar hanya berharap ada uluran tangan dari pemerintah atau pihak yang peduli, agar ia bisa keluar dari lingkaran keterbatasan dan menata kembali hidup yang sempat porak-poranda.

 

(*/Ach)

Komentar