LUWU | METROLUWURAYA.COM — Musim kemarau yang melanda Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, ikut memunculkan persoalan debu di sejumlah ruas jalan yang menjadi lokasi aktivitas penggalian jaringan kabel listrik PLN.
Kondisi jalan yang kering, ditambah lalu lintas kendaraan di sekitar area pekerjaan, membuat debu lebih mudah beterbangan dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Untuk mengurangi dampak tersebut, penyiraman jalan dilakukan di sejumlah titik yang terdampak.
Salah satu pihak yang aktif mengambil peran adalah Kader Jaga Lingkungan (KJL) Desa Rumaju, Kecamatan Bajo.
Heri (40), Kader Jaga Lingkungan Desa Rumaju, mengatakan penyiraman dilakukan secara rutin dengan memanfaatkan selang yang terhubung ke mesin penyedot air.
“Proses penyiraman jalan di sini menggunakan selang dibantu mesin,” kata Heri, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, penyiraman biasanya dilakukan dua kali dalam sehari, masing-masing pada pagi dan sore. Namun, frekuensinya dapat ditambah pada siang hari apabila kondisi jalan mulai dipenuhi debu.
Menurut Heri, langkah tersebut cukup membantu menekan debu yang muncul selama musim kemarau, terlebih saat aktivitas penggalian kabel PLN masih berlangsung.
“Kalau untuk efektivitas cukup membantu menangani debu selama musim kemarau dan bertepatan dengan penggalian kabel PLN,” ujarnya.
Selain KJL, PT Masmindo Dwi Area (MDA) turut mengambil bagian dalam mengurangi persoalan tersebut dengan mengerahkan kendaraan tangki untuk menyiram ruas jalan yang dilalui kendaraan maupun berada di sekitar lokasi kegiatan.
Heri menyebut kendaraan roda empat milik MDA umumnya melakukan penyiraman sebanyak dua kali dalam sehari. Kehadiran kendaraan tangki tersebut dinilai ikut membantu mengendalikan debu yang dirasakan masyarakat.
Tiga Personel KJL Turun Langsung
Heri mengungkapkan, KJL Desa Rumaju merupakan bagian dari Forum Desa Matappa (Fordes Matappa). Dalam menjalankan kegiatan di lapangan, terdapat tiga personel yang memiliki tugas masing-masing sesuai program yang telah disusun.
Ketiganya turun bersama ketika penyiraman harus dilakukan di titik-titik yang membutuhkan penanganan.
“Kami sebagai Fordes Matappa ada tiga orang. Punya tugas yang sudah terprogram dan kami turun semua melakukan penyiraman,” ungkap Heri.
Adapun penyiraman dilakukan di tiga lokasi, yakni di sekitar Kantor Desa Rumaju, depan masjid, serta kawasan Jembatan Kadong-kadong.
Kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengurangi debu, tetapi juga menjadi bagian dari kepedulian terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan masyarakat.
Namun, aktivitas penyiraman menghadapi tantangan tersendiri, terutama terkait ketersediaan air.
Heri mengatakan kondisi kemarau membuat sumber air di sejumlah lokasi terkadang berkurang. Karena itu, pelaksanaan penyiraman harus disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan air di lapangan.
“Kalau untuk kendala biasanya air. Ketersediaannya kadang kurang karena faktor musim kemarau,” tuturnya.
Meski terdapat keterbatasan, Heri mengaku tetap menjalankan kegiatan tersebut dengan sukarela dan penuh semangat. Baginya, penyiraman jalan merupakan bentuk sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak debu.
“Kami lakukan dengan penuh rasa senang karena kami bisa membantu supaya tidak terlalu banyak debu,” katanya.
Warga Dukung Aktivitas KJL
Hingga saat ini, Heri mengaku belum menerima keluhan dari masyarakat terkait kegiatan penyiraman yang dilakukan KJL.
Sebaliknya, masyarakat justru memberikan respons positif terhadap aktivitas tersebut karena dinilai membantu mengurangi debu di sekitar permukiman dan akses jalan warga.
“Kalau sampai saat ini saya belum menerima komplain dari warga. Justru warga memberikan dukungan,” jelasnya.
Peran KJL di Desa Rumaju ternyata tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Kelompok tersebut juga menjalankan fungsi sebagai penghubung komunikasi antara masyarakat dengan PT MDA.
Heri mengatakan, sejumlah aspirasi maupun keluhan yang disampaikan warga diterima oleh KJL untuk kemudian diteruskan kepada pihak perusahaan agar dapat ditindaklanjuti.
“Kami juga menjadi jembatan atas keluhan warga terhadap MDA dan itu kami teruskan dan dilakukan oleh MDA,” ujarnya.
Selain menerima dan menyampaikan keluhan, KJL juga melihat adanya sejumlah program sosial MDA yang menyentuh masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Program tersebut antara lain bantuan bagi warga lanjut usia, anak yatim, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang sedang mengalami sakit.
Menurut Heri, bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian perusahaan terhadap masyarakat sekitar.
“Walaupun mungkin tidak banyak, tapi memang benar-benar memberi bantuan,” terangnya.
Menjaga Lingkungan, Merawat Komunikasi
Bagi Heri, keberadaan KJL tidak sebatas menjaga kondisi lingkungan secara langsung. Lebih jauh, kelompok tersebut memiliki peran dalam membangun komunikasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan.
Menurutnya, komunikasi yang berjalan dengan baik akan memudahkan berbagai persoalan di lapangan untuk disampaikan sehingga dapat segera mendapatkan perhatian dan tindak lanjut.
Aktivitas penyiraman jalan menjadi salah satu contoh nyata. Di tengah kondisi kemarau dan berlangsungnya pekerjaan penggalian kabel PLN, KJL ikut mengambil peran untuk mengurangi dampak debu yang mengganggu masyarakat.
Heri berharap kegiatan tersebut dapat terus berjalan, termasuk komunikasi antara masyarakat dan MDA, sehingga aktivitas pembangunan dapat tetap berlangsung tanpa mengesampingkan kenyamanan warga yang berada di sekitar lokasi.
“Yang penting kami bisa membantu masyarakat dan lingkungan supaya debu tidak terlalu banyak,” pungkasnya.
(*)






